MENGAPA BERDOA

Kenali Dirimu

Siapa yang mengenal dirinya, niscaya akan mengetahui Tuhannya.

Pernahkah kamu bercermin? Tentu sering, bukan? Apa yang kamu lihat? Wajahmu? Kemolekan kulitmu? Kegagahan tubuhmu? Syukurlah, jika hal itu sering kamu lakukan. Tentunya, asal kecantikan dan ketampananmu itu tidak mengarah pada kesombongan atau tidak mengarah pada keminderan karena kekurang puasan terhadap apa yang ada pada dirimu. Bercerminlah sambil memandang diri sangat baik dilakukan, apalagi jika ujungnya membawa kamu untuk lebih bersyukur atas apa yang telah Allah titipkan kepadamu.

Jika bercermin sering dilakukan, pernahkah kamu memandang lebih dalam? Tidak hanya sekadar memandang lapisan kulit luar? Ada apakah di balik kulitmu yang halus mulus? Ada daging! Ada apa pula di balik daging? Ada tulang! Apa yang menggerakan tulang sehingga gerakannya terarah? Akal! Lalu, apa yang menggerakkan gerakanmu pada kebaikan? Hati! Apa pula yang menggerakakan gerakanmu pada kejelekan? Jawabannya adalah nafsu (amarah dan ghadhab)!

Betapa uniknya dirimu! Al-Ghazali menyebutkan bahwa semuanya saling berhubungan, ada jasad, nafs, akal, dan hati. Masalahnya, hubungan tersebut perlu kamu tata dengan baik. Ketika semuanya telah dititipkan oleh Sang Maha Pencipta kepada kamu, tugasmu adalah menyusunnya. Apa yang akan diletakkan paling atas, tengah, dan bawah. Semuanya akan berpengaruh pada kehidupanmu serta akan berpengaruh pula pada saat kamu diminta pertanggungjawaban nantinya.

Lalu, bagaimana menyusunnya? Jika dirimu diibaratkan sebuah negara (kerajaan) yang memiliki aparatur pemerintahan, hati (qalb) adalah rajanya. Akal (‘aqlb) sebagai perdana menterinya dan nafsu (nafs amarah dan qhadhab) adalah musuhnya.

Kalo raja bertindak bijaksana, berwibawa, tegas serta dapat mengatur dengan baik, akan tercipta kehidupan yang aman dan tentram. Oleh karena itu, nafsu harus selalu ditempatkan di bawah hati (qab). Akal juga harus senantiasa mengawasi nafsu. Tetapi sebaliknya, jika musuh menguasai raja, perdana menteri kehilangan arah, akan kacaulah negara. Demikian halnya jika nafsu  menguasai hati dan akal lepas kontrol, akan kacaulah dirimu!

Nabi Saw. Bersabda, “Sesungguhnya dalam dirimu terdapat gumpalan. Jika gumpalan itu baik, baiklah seluruh tubuh; jika gumpalan itu jelek, jelek pulalah seluruh tubuh. Ingat, gumpalan itu adalah hati”. (HR. Bukhari Muslim)

Dengan demikian, hati (qalb) memiliki peran sangat esensial dalam diri kita. Walaupaun secara fisik berbentuk seperti jantung pisang, secara esensi, hati bersifat lembut (latif). Hati juga adalah alat penghubung (komunikasi) dengan Tuhan (Robbani) dan bersifat meberi cahaya (ruhani/nurani). Hati dalam kemampuannya yang demikian, dapat menjadi media untuk berhubungan dengan Allah, baik dala menerima maupun menyampaiakan informasi kepada-Nya.

Al-Ghazali  menyatakan, hati memiliki kemampuan untuk bisa berhubungan dengan Allah. Hati juga yang berpotensi untuk berdialog secara batin dengan-Nya.

Hati itu ibarat cermin. Cermin yang dapat memantulkan cahaya adalah cermin yang bersih. Sementara, cermin yang kotor, jika ingin dapat memantulkan cahaya, perlu dibersihkan dahulu. Demikian pula hati. Ia akan memiliki fungsi sebagai media penghubung dengan Allah jika dalam keadaan suci, bersih serta ikhlas. Jika masih dalam keadaan kotor, kemungkinannya, ia sulit menghantarkan pesan-pesan yang disamapaikannya.

Untuk itu, agar hati bisa berfungsi menghantarkan dan menerima pesan untuk dan dari Allah, perlu dilakukan pembersihan hati (tathhir al-qalb), yaitu penyucian qalb dari akhlak yang jelek serta berbagai penyakit yang mengotorinya. Jika telah bersih, hati akan memiliki fungsi yang baik, menjadi media pengantar pesan untuk dan dsari Allah.

Itulah, sekilas mengenai kondisi gambaran manusia, termasuk diri kamu tentunya. Alhasil, jika sering bercermin, kamu akan lebih mengetahui tampilan kamu. Apabila dapat bercermin lebih dalam, kamu akan mengetahui kondisi dirimu. Dengan demikian, kamu akan bisa menata hubungan nafs, akal, dan hatimu.

Tatalah hubungan yang belum tertata rapi serta bersihkan yang masih kotor. Tata sehingga hati menjadi raja, akal menjadi perdana menteri, nafs (amarah) menjadi musuhnya. Jika belum bersih, bersihkanlah dari mulai wajah-sehingga menjadi paras yang indah-sampai hati sehingga menjadi bersih.

Dengan hati yang bersih, kelak, ia akan tampil sebagai media yang memiliki kemampuan menghubungkan. Ibarat antena yang bisa menerima “cahaya” dari yang ghaib dan menyampaikannya hingga dapat menerangi (nurani) dirimu seluruhnya.

Lalu adakah yang gaib itu? Siapa sajakah mereka? Di manakah mereka berada?

 

Kamu Tidak Sendirian

Saat sendirian, Kamu tak perlu terliarkan. Allah di dekatmu. Malaikat di kiri kananmu. Setan di depan belakangmu. Semua mengajak bicara.

Tentang apa arti hidup ini.

Kala sendiri, kamu merasa sepi dan bete. Orangtua pun sibuk dengan kerjaannya. Sejak pagi buta, mereka sudah pergi dan pulang kala kembali malam. Paling cepat, maghrib, mereka baru tiba, itu pun dalam keadaaan capek. Mereka butuh istirahat sehingga tak sempat nanya apalagi ngobrol tentang persoalan yang sedang kamu hadapi.

Kamu memang punya saudara, tapi mereka pun asyik dengan urusan masing-masing. Dirumah, kadang ibarat terminal, tempat istirahat saja. Sementara, kehidupan masing-masing tetap saja diluar rumah.

Kamu memang banyak teman, tapi lagi-lagi tiada yang setia. Mereka hanya dekat kalo lagi ada maunya atau jika kamu lagi dibutuhin sama mereka. Sementara, saat kamu butuh, mereka seakan tiada yang mau mengerti.

Padahal, saat itu, kamu lagi menghadapi banyak masalah. Mulai dari pe-er sekolah yang datang bergantian, sampe dengan masalah temen yang ngiri kepada kamu. Padahal, masalahnya sepele saja. Kamu suka diperhatiin sama temen lain karena dia suka sama kamu, sedangkan kamu tidak suka kepadanya karena kamu lebih suka kepada teman lain. Sementara, sayangnya, dia tidak pernah memerhatikan kamu.

Lebih penting dari itu semua, kamu dikejar target agar tahun ini bisa memperbaiki ranking di kelas sehingga tidak terkena ancaman tidak naik kelas. Maklum, semeter lalu, ranking kamu sempat berada di ujung tanduk. Padahal, kamu punya cita-cita selangit; ingin jadi ini, ingin dapat itu, ingin begini, dan ingin begitu. So, kamu dibuat pusing sama semua urusan dan keinginan itu.

Saat seperti itu, kamu ngerasa tiada seorang pun yang layak diajak bicara. Hidup kamu terasa sunyi dan sepi. Sampai-sampai, kamu boring alias bete dibuatnya. Padahal, saat itu kamu butuh berbagi, tapi dengan siapa?

Untuk menghilangkan kesepian itu, kamu nyetal musik. Namun, itupun hanya menghilangkan jenuh sesaat, lalu kejenuhan itu muncul lagi. Kamu pun cari-cari temen curhat dan temen berbagi, tapi tetap saja tak ada. Kamu pun binggung …

Kamu hanyalah salah satu diantara mereka yang saat ini banyak merasa kesepian dan tidak memiliki teman curhat. Sementara, sejumlah masalah dan keinginan serta target, menumpuk dihadapan kamu.

Saat seperti itu awas lho..jangan ambil jalan pintas pake ngelakuin yang tidak pantas. Igat, sebenarnya, kamu mempunyai kemampuan psikis secara batiniah sebagai bekal untuk menghadapi berbagai tantangan dalam menjalani kehidupan. Namun, mungkin kamu belum serius untuk menggali dan mengembangkannya. Akibatnya, kamu masih sering kebinggungan di saat sebuah persoalan memengaruhi perasaan. Kegelisahan dan kecemasan dibiarkan mendera, sampai akhirnya menyebabkan kamu merasa pusing, depresi atau malah sakit …

Coba deh kamu inget, saat sendiri,..benarkah kamu benar-benar sendiri? Atanya, kamu beriman. Iman kepada siapa? Iman sama Allah! Adakah Allah? Di manakah Dia? Kamu juga, katanya iman sama malaikat? Adakah malaikat? Dimakanah malaikat? Kamu juga, katanya percaya sama setan, lalu, setan itu ada dimaa?

Kalo memang kamu percaya sama semua yang ghaib, coba deh, cari tahu jawaban pertanyaan-pertanyaan tadi. Kelak kamu akan menemukannya. Ya, Allah itu dekat, malaikat dekat, serta setan pun dekat. Bedanya, Allah dan malaikat mengajak pada kebaikan, sedangkan setan mengajak kamu pada keburukan. Kalo begitu, kamu tidak sendirian, tho?!

Oleh : Aep Kusnawan Ash-Shiddiq

Pos ini dipublikasikan di Seputar Kita, Siraman Rohani. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s