Seperti Pohon tak Berbuah

Hampir tiap orang menginginkan kehidupan yang kaya. Mengapa? Sebab, dalam angan-angannya, dalam imajinasinya dalam bayangannya, hidup dalam keadaan yang kaya Akan bahagia, senang, gembira dan seterusnya. Lebih-lebih, jika situasi yang serba dalam kekurangan. Sehingga menyebabkan terjadinya kesulitan untuk melakukan banyak hal. Lain halnya apabila hidup dalam keadaan kaya ; mau ngapain jg bisa.

Demikian itulah logika sederhana yang dimiliki oleh banyak orang. Dengan logika yang seperti ni, banyak orang kemudian berlomba-lomba untuk bisa menjadi kaya. Banyak cara ditempuh. Gairah kerja ditingkatkan. Peluang usaha diciptakan. Kesempatan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Uang dikumpulkan.

Mana yang lebih menyenangkan anda; memberi uang atau diberi uang yang halal?membangun rumah atau dibangunkan rumah?membayar zakat atau menerima zakat.

Tanyakan pertanyaan-pertanyaan tersebut kepada orang-orang yang ada disekeliling anda. Tanyakan pula kepada mereka, mana yang lebih mengasikan bagi para remaja; nonton konser music atau “nonton” pengajian? Mendengar celoteh seorang artis secara live atau mendengar kata-kata petuah kiai tua tentang neraka dan surga?

Demi Allah, yang jiwa saya ada di genggamanNya, masuk ke taman orang yang mabuk keduniaan dan berjalan-jalan menyusuri jalan-jalannya sangatlah mudah, tetapi keluar darinya sangatlah susah. Sedangkan, sakaratul maut datang menyambut, membinasakan segala kesenangan di dunia. Bila saja kita tahu apa yang terjadi setelah kematian raga, niscaya kita tidak akn menganggap remeh pentingnya mengumpulkan bekal untuk hidup setelah mati. Niscaya, kita akn menyadari bahwa bermegah-megahan, bermewah-mewahan, berakus-rakusan dan seterusnya hanya akn menelantarkan kita ke ujung kematian dan meninggalkan kita dalam Rahim kehampaan, kesunyian, kekosongan, kekeringan dan keputusasaan.

Menjadi kaya adalah sebuah akhir dari drama kehidupan di dunia ini yang gagal jika ternyata kekayaan telah menjadikan pemiliknya sebagai orang yang rakus, orang yang serakah,orang yang sombong,orang yang suka menghina dan merendahkan, orang yang suka pamer, atau orang yang suka menginjak orang lain. Menjadi kaya yang demikian ini hakikatnya menjadi seorang yang sangat jahat dan bejat moral dan spiritualnya, hatta adalah seorang muslim

Penyifatan yang tepat bagi orang kaya yang demikian itu laksana pohon yang tak berbuah. Pohon tersebut sesungguhnya merupakan pohon buah-buahan, tetapi buahnya sendiri tidak muncul. Setiap hari, pohon itu terus tumbuh membesar dan kian tinggi, dedaunnya pun semakin rimbun. Ketika tiba saatnya pohon itu biasanya berbuah laiknya pohon buah-buahan pada umumnya, ternyata pohon tersebut tidak menghasilkan buah sama sekali.

Apakah buah dari kepemilikan kekayaan materi itu sesungguhny? Inilah contohnya; kedermawanan, kesederhanaan, rasa syukur, kewaspadaan dan kehati-hatian agar jangan sampai mabuk kemewahan, kejujuran, rendah hati, ketenangan jiwa, akal sehat, empati dan hikmah,dsb.

Sungguh sangat sulit menemukan buah-buahan yang seperti itu pada banyak orang kaya saat ini. Tetapi alangkah sangat mudah bagi kita menemukan ‘pohon-pohon yang tidak berbuah’ dimana-mana.

 

Pos ini dipublikasikan di Coretan dinding, Seputar Kita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s